[TAU GA?] Santa dan Santo dalam Gereja Katolik

Tidak ada komentar

November diperingati sebagai bulan Santa & Santo. Siapa mereka? Yang diberi gelar demikian adalah mereka yang hidupnya ditandai oleh perbuatan kebajikan yang mencapai titik heroik, dan kekudusan hidup mereka harus dapat dibuktikan oleh argumen-argumen, dan disertai oleh mukjizat-mukjizat dari Tuhan yang diperoleh melalui perantaraan doa kepada mereka. Hal ini penting untuk membuktikan bahwa mereka adalah benar sahabat Allah, melalui proses kanonisasi dan beatifikasi gereja.

Adakah dasar alkitab dan hukum gereja atau tradisi gereja bahwa kita boleh berdoa melalui Santo & Santa? Pengajaran Iman Gereja Katolik menegaskan bahwa “pengantaraan Kristus yang satu-satunya” (1 Tim 2:5) bersifat inklusif, yaitu melibatkan juga orang-orang kudus-Nya, sebab semua orang kudus itu adalah kawan sekerja Allah (1 Kor 3:9). Bahwa orang yang kudus, dapat mendoakan, berdoa syafaat bagi sesamanya (1 Tim 2:1).

Dalam Katekismus Gereja Katholik (KGK) no. 955, 956 dan 957, ajaran iman gereja jelas mendukung bahwa: “Persatuan kita yang masih di dunia ini sama sekali tidak terputus dengan para kudus yang telah bersama Yesus”.

Praktek berdoa melalui perantaraan orang kudus ditemukan dalam tulisan-tulisan Kristen sejak abad ke-3. Pengakuan Iman Rasuli atau Syahadat Para Rasul dari abad ke-4 menyatakan “Persekutuan para Kudus”, yang diinterpretasikan gereja sebagai dasar dari perantaraan para kudus atau Santa & Santo.

Dirangkum dari Katolisitas dan berbagai sumber.
ALB, Nov.2019

Credit Image: aleteia.org

Tidak ada komentar

Posting Komentar